Seorang muslim perlu mengetahui fakta bahwa: "Pernah, salah seorang
penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam
kecuali satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat subuh menyamai jumlah
jamaah shalat jum'at". Pelajaran apa yang dapat kita petik dari
pernyataan di atas? Ternyata orang Yahudi lebih jeli terhadap kondisi
kaum Islam, dari pada kita sendiri.
Betapa selama ini kebanyakan kaum muslim terlena dalam malam yang
panjang. Sehingga hanya menyisakan segelintir orang yang membentuk
sederet sampai dua deret shaf pada shalat subuh. Mereka menyadari, ada
nilai religi dan filosofi yang kuat dalam pelaksanaan shalat subuh.
Alih-alih, justru orang Yahudi yang menyadarinya.
Memang, kalau kita urai benang permasalahannya, akan lebih rumit.
Pemahaman dan kesadaran mayoritas kaum muslim masih yanh lemah. Dengang
berbagai alasan, akhirnya lebih memilih shalat sendiri di rumah. Sebuah
fenomena yang bila terjadi pada Rasulullah akan diancam dengan sanksi
pembakaran rumah. Bahkan bagi sebagian muslimin (seorang laki-laki
islam), kewajiban shalat teranaktirikan oleh berbagai kepentingan dunia
dan tentunya bisikan setan. Naudzubillah.
Dalam lima waktu shalat wajib yang diperintahkan kepada kita, penulis
(DR. Raghib As-Sirjani) lebih memfokuskan titik permasalahan kepada satu
waktu yakni shalat subuh. Tentunya ini tidak bermaksud membeda-bedakan
satu kewajiban dengan kewajiban lainnya.
Tetapi berdasarkan kajian epistemoligis da analisis aksiologisnya,
shalat subuh mempinyai kekuatan yang luar biasa. Pahala yang dijanjikan
Allah dalam shalat subuh dan aktifitas lain yang dikerjakan sebelum dan
sesudahnya begitu besar. Wajar, shalat subuh dikerjakan diantara waktu
teristimewa; di sepertiga malam terakhir dan waktu fajar.
Sabtu, Juli 21, 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar