Kontroversi New 7 Wonders
Hal yang menjadi kontroversi adalah keberadaan kantor New seven Wonders di Swiss yang dikabarkan tidak jelas alamatnya. Adalah Dubes RI di Swiss, Djoko Susilo yang menuduh ada kejanggalan tentang New7Wonders. Djoko menuding New7Wonders organisasi yang tidak jelas.
Dia juga sempat menyerukan kepada masyarakat untuk hanya mengakui UNESCO sebagai badan resmi yang memberikan gelar seperti Warisan Dunia dan Keajaiban Dunia.
Klarifikasi Tudingan Terhadap New 7 Wonders
Direktur Organisasi The New 7 Wonders, Joan Paul De La Fuente, dalam teleconferencenya mengklarifikasi bahwa yang menyerang New 7 Wonders dengan mengatakan organisasi abal-abal bukanlah pemerintah melainkan seorang pejabat pemerintah. Dalam hal ini adalah Dubes RI di Swiss, Djoko Susilo.
Joan Paul de La Fuente mengatakan, N7W merupakan organisasi resmi yang diakui pemerintah Swiss. Yayasan N7W, menurut de La Fuente, memang beralamat di museum milik keluarga Weber.
Joan juga Mengatakan bahwa tudingan di alamatkan kepada New7Wonders adalah tudingan yang salah.
Tudingan tersebut berasal dari pejabat Pemerintah Indonesia yang Pernah bekerja sama dengan new7wonders selama dua tahun. Pejabat itu bertindak sebagai suporter official committee. Namun di tengah perjalanan ada ketidaksesuaian tindakan pejabat itu dengan ketentuan dan prinsip N7W. Akhirnya N7W memutuskan hubungan kerja sama tersebut. Dengan alasan "Tidak menghormati kesepakatan dan aturan main".
Kontroversi Komodo Masuk Dalam New 7 Wonders
Komodo hidup di Taman Nasional Komodo yang terdiri dari Pulau Komodo, Rinca dan Padar. Komodo ikut berpartisipasi dalam acara yang di adakan oleh New7wonders sebagai salah satu finalis yang masuk dalam new7wonders.
Hal yang menjadi kontroversi adalah Pihak New 7 Wonders yang menganulir Kementerian Pariwisata sebagai komite pendukung resmi Pulau Komodo dalam kompetisi itu. Kontroversi kompetisi ini bertambah ramai setelah Duta Besar RI untuk Swiss di Bern Joko Susilo mengatakan keberadaan Yayasan New7Wonders yang dikatakan bermarkas di Swiss fiktif.
Baru-baru ini muncul SMS dan pesan berantai yang berisi berbagai alasan mengapa tidak perlu memilih Pulau Komodo di kompetisi New 7 Wonders, sampai-sampai dukungan untuk Komodo dengan voting menggunakan SMS sempat meredup tetapi kemudian gencar lagi setelah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla turut terlibat kampanye pemenangan.
Salah seorang penggagas Pendukung Pemenangan Komodo mengatakan bahwa ada rencana Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif Indonesia untuk menggugat organisasi penyelenggara kontes tujuh keajaiban dunia.
Nah, sobat-sobat semua setelah kalian mengetahui rekam jejak tentang Kontroversi Komodo | New 7 Wonders of Nature, apa anda akan ikut berpartisipasi untuk mendukung Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia??

0 komentar:
Posting Komentar