BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Pemerintah
adalah sebagai kepala suatu perekonomian yang mengatur dan menjalankan
perekonomian di Indonesia. Tentu saja dalam mengaturnya pemerintah mengalami
kesulitan dimana untuk mencapai tujuan yang memuaskan.
Salah satu
kesulitan yang terus menerus mendapat perhatian pemerintah adalah masalah
inflasi. Tujuan jangka panjang pemerintah adalah menjaga agar tingkat inflasi
yang berlaku berada pada tingkat yang sangat rendah. Tingkat inflasi nol persen
bukanlah tujuan utama kebijakan pemerintah karena ia adalah sukar untuk
dicapai. Yang paling penting untuk diusahakan adalah menjaga agar tingkat
inflasi tetap rendah.
Adakalanya
tingkat inflasi meningkat dengan tiba-tiba atau wujud sebagai akibat suatu
peristiwa tertentu yang berlaku di luar ekspektasi pemerintah yang sangat besar
atau ketidakstabilan politik. Menghadapi masalah inflasi yang bertambah cepat
ini pemerintah akan menyusun langkah-langkah yang bertujuan agar kestabilan
harga-harga dapat diwujudkan kembali.
1.2 Perumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan inflasi ?
2. Apa
macam-macam inflasi ?
3. Apa
golongan-golongan dalam inflasi ?
4. Apa efek yang
timbulkan dari inflasi ?
5. Apa dampak
inflasi dalam perekonomian Indonesia dan kemakmuran masyarakat ?
1.3 Tujuan
Pembahasan
1. Agar
mengetahui pengertian dari inflasi.
2. Agar
mengetahui macam-macam dari inflasi.
3. Agar
mengetahui pembagian golongan-golongan dalam inflasi.
4. Agar
mengetahui efek yang ditimbulkan dari inflasi.
5. Agar
mengetahui efek inflasi dalam perkembangan ekonomi dan kemakmuran Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Inflasi
Dalam ilmu
ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan
terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh
berbagai faktor yaitu, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihannya
likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk
juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi
juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara terus-menerus.
Inflasi adalah
proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya,
tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi
adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika
proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menurus dan saling mempengaruhi.
2.2 Macam-Macam
Inflasi
2.2.1 Inflasi
Tarikan Permintaan
Inflasi ini
biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan
kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya
menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan
jasa. Pengeluaran yang melebihi ini akan menimbulkan inflasi.
Disamping dalam
masa perekonomian berkembang pesat, inflasi tarikan permintaan juga dapat
berlaku pada masa perang atau ketidakstabilan politik terus-menerus. Dalam masa
seperti ini pemerintah berbelanja jauh melebihi pajak yang dipungutnya. Untuk
membiayai kelebihan pengeluaran tersebut pemerintah terpaksa mencetak uang atau
meminjam dari bank sentral. Pengeluaran pemerintah yang berlebihan tersebut
menyebabkan permintaan agregat akan melebihi kemampuan ekonomi tersebut
menyediakan barang dan jasa. Maka keadaan ini akan mewujudkan inflasi.
2.2.2 Inflasi
Desakan Biaya
Inflasi ini
berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat
pengangguran adalah sangat rendah. Apabila perusahaan-perusahaan masih
menghadapi permintaan yang bertambah, mereka akan berusaha menaikkan produksi
dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan
mencari pekerja baru dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi ini. Langkah
ini mengakibatkan biaya produksi meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan
kenaikan harga-harga berbagai barang.
2.2.3 Inflasi
Diimpor
Inflasi dapat
juga bersumber dari kenaikan harga-harga barang yang diimpor. Inflasi ini akan
wujud apabila barang-barang impor yang mengalami kenaikan harga mempunyai
peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran perusahaan-perusahaan. Satu
contoh yang nyata dalam hal ini adalah efek kenaikan harga minyak dalam tahun
1970-an kepada perekonomian negara-negara barat dan negara-negara pengimpor
minyak lainnya. Minyak penting artinya dalam proses produksi barang-barang
industri. Maka kenaikan harga minyak tersebut menaikkan biaya produksi, dan
kenaikan biaya produksi mengakibatkan kenaikan harga-harga. Kenaikan harga
minyak yang tinggi pada tahun 1970-an ( yaitu dari US$3.00 pada tahun 1973
menjadi US$12.00 pada tahun 1974 dan menjadi US$30.00 pada tahun 1979)
menyebabkan masalah stagflasi yaitu inflasi ketika pengangguran adalah tinggi,
di berbagai negara.
Dengan demikian
stagflasi menggambarkan keadaan di mana kegiatan ekonomi semakin menurun,
pengangguran semakin tinggi dan pada waktu yang sama proses kenaikan
harga-harga semakin bertambah cepat.
2.3 Pembagian
Tipe Golongan dalam Inflasi
Berdasarkan
asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari
dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari
dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang
dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga
bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah
inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa
terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan
tarif impor barang.
Inflasi juga
dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika
kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang
tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun,
apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu
disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan
inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan
meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai
uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan
keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% /
tahun)
Inflasi berat (antara 30% sampai 100% /
tahun)
Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)
2.4 Efek yang di
Timbulkan Inflasi
Inflasi memiliki
dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi.
Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti
dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional
dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak
terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian
dirasakan lesu.
Orang menjadi
tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi
karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti
pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan
menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot
dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat
yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh
seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas
tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang
pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya,
orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya
pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan
pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga
menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun.
Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga,
nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan
investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha
membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang
meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat
pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada
saat meminjam. Sebaliknya,kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan
mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika
dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen,
inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi
daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan
temenyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen,
maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan
produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju
inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada
pengusaha kecil).
Secara umum,
inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong
kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif,
kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca
pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
2.5 Efek Inflasi
dalam Perkembangan Ekonomi dan Kemakmuran Indonesia
Inflasi yang tinggi
tingkatnya tidak akan menggalakkan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus
menerus meningkat menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan.
Maka pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan
spekulasi. Antara lain tujuan ini dicapai dengan membeli harta-harta tetap
seperti tanah, rumah dan bangunan. Oleh karena pengusaha lebih suka menjalankan
kegiatan investasi yang bersifat seperti ini, investasi produktif akan
berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi menurun. Sebagai akibatnya lebih banyak
pengangguran akan terwujud.
Kenaikan
harga-harga menimbulkan efek yang buruk pula ke atas perdagangan. Kenaikan
harga menyebabkan barang-barang negara itu tidak dapat bersaing di pasaran
internasional. Maka ekspor akan menurun. Sebaliknya, harga-harga produksi dalam
negeri yang semakin tinggi sebagai akibat inflasi menyebabkan barang-barang
impor menjadi lebih murah. Maka lebih banyak impor akan dilakukan. Ekspor yang
menurun dan diikuti pula oleh impor yang bertambah menyebabkan ketidakseimbangan
dalam aliran mata uang asing. Kedudukan neraca pembayaran akan memburuk.
Disamping
menimbulkan efek buruk atas kegiatan ekonomi negara, inflasi juga akan
menimbulkan efek-efek terhadap individu dan masyarakat yaitu :
- Inflasi akan
menurunkan pendapat riil orang-orang yang berpendapatan tetap. Pada umumnya
kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga. Maka inflasi akan
menurunkan upah riil individu-individu yang berpendapatan tetap.
- Inflasi akan
mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Sebagian kekayaan masyarakat
disimpan dalam bentuk uang. Simpanan di bank, simpanan tunai, dan simpanan dalm
institusi-institusi keuangan lain merupakan simpanan keuangan. Nilai riilnya
akan menurun apabila inflasi berlaku.
- Memperburuk pembagian
kekayaan. Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan menghadapi
kemerosotan dalam nilai riil pendapatannya, dan pemilik kekayaan bersifat
keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil kekayaannya. Akan tetapi pemilik
harta-harta tetap (tanah, bangunan, dan rumah) dapat mempertahankan atau
menambah nilai riil kekayaannya. Juga sebagian penjual/ pedagang dapat
mempertahankan nilai riil pendapatannya. Dengan demikian inflasi menyebabkan
pembagian pendapatan di antara golongan berpendapatan tetap dengan
pemilik-pemilik harta tetap dan penjual/ pedagang akan menjadi semakin merata.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Inflasi adalah
sebuah masalah yang menjadi salah satu sorotan pemerintah , inflasi ini menjadi
suatu kesulitan dalam memajukan perekonomian Indonesia. Inflasi ini diartikan
sebagai suatu proses dari suatu peristiwa meningkatnya harga-harga secara umum
secara terus-menerus. Inflasi ini berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat
disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya konsumsi masyarakat Indonesia yang
selalu meningkat, berlebihannya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau
bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi
suatu barang. Dengan kata lain inflasi ini juga merupakan proses menurunnya
nilai suatu mata uang secara terus-menerus.
Dan juga inflasi
ini adalah sebuah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap
terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling
mempengaruhi.
3.2 Saran
Untuk mengatasi
Inflasi, pemerintah harus mempunyai sebuah kebijakan-kebijakan yang mempunyai
strategi bagus untuk mengurangi ataupun menanggulangi masalah inflasi ini.
Kebijakan tersebut bisa saja dalam kebijkan moneter ataupun kebijkan fiskal.
Dan adapun cara untuk mengatasi inflasi ini yaitu pemerintah menaikkan suku
bunga yang ada di Bank, lalu menjual surat-surat berharga BI, serta melakukan
kebijakan-kebijakan mengenai harga-harga yang ada di pasaran. Beberapa cara
tersebut dibuat untuk membuat masyarakat Indonesia rajin untuk menabung uang
mereka ke Bank dan juga dapat menekan peredaran uang yang ada. Jadi dengan cara
seperti tersebut dapat mengurangi ataupun mengatasi inflasi.
DAFTAR PUSTAKA
Sukirno,
Sadono.2011.Makroekonomi Teori Pengantar edisi ketiga .Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Inflasi
0 komentar:
Posting Komentar